(6# Ngaji Hadits-hadits Lingkungan Hidup dan Agraria): KETIKA KEKERINGAN EKSTREM MELANDA

By admin, August 7, 2017

Kekeringan

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : ليست السّنة بأن لا تُمطَروا ولكن السّنة أن تُمطروا وتُمطروا ولا تُنبت الأرض شيئا – رواه مسلم

“Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah r.a., bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Bukanlah kemarau yang sesungguhnya (al-sanah) adalah bahwa kalian tidak diberi hujan, melainkan kemarau yang sesungguhnya adalah kalian diberi hujan, kemudian lagi-lagi diberi hujan, tetapi tidak tumbuh apapun di bumi’” (HR. Muslim)

~~

Hadits ini mengangkat tentang kekeringan dan musibah kemarau yang akan melanda manusia di akhir zaman yang katastrofik dan penuh krisis ekologis. Imam Muslim meletakkan hadits ini di bab “tanda-tanda kiamat dan fitnah” dalam kitabnya “Shahih Muslim”. Namun, hadits ini mengandung pelajaran lingkungan hidup yang penting, di samping memberi alamat “tanda-tanda zaman” yang benar akan terjadi, karena keluar dari pengetahuan kenabian.

Para pengamat lingkungan hidup menyebut kekeringan terjadi karena dua faktor, alamiah dan sosial. Faktor alamiah adalah musim kemarau yang terlalu lama, di mana tidak turun hujan dalam jangka waktu lama, sehingga mengakibatkan kehabisan cadangan air tanah. Faktor ini cukup menimbulkan dampak kekeringan pada tanah dan hilangnya kesuburan (tandus). Namun, lebih banyak ternyata kekeringan terjadi karena faktor sosial, sehingga alam tidak satu-satunya dapat dipersalahkan.

Di antara faktor-faktor sosial itu adalah: 1) minimnya resapan air karena minimnya pohon. Faktor ini didorong oleh tidak adanya penghijauan atau rusaknya areal hijau oleh eksploitasi. 2) pemanfaatan air yang berlebihan sehingga menguras habis cadangan air tanah. Ini didorong oleh eksploitasi sumber-sumber air untuk kepentingan industri atau privatisasi. Termasuk dalam kategori ini, misalnya, pemanfaatan air untuk kepentingan industri Panas Bumi (Geothermal) yang tekniknya (disebut “fracking”) membutuhkan jutaan liter air untuk sekali injeksi, dan otomatis menguras cadangan air suatu wilayah. 3) tandusnya sumber-sumber air, seperti sumur dan lain-lain, akibat sirkulasi air yang terganggu. Ini turut didorong oleh perusakan sumber-sumber air atau lapisan-lapisan bumi yang mengandung serapan air, seperti bentang karst. Eksploitasi karst atau gunung kapur untuk bahan baku semen atau produk tambang lain, turut menyumbang kekeringan atau potensi kekeringan.

Rasulullah memberikan isyarat tentang faktor sosial yang melatarbelakangi suatu bencana kekeringan dengan hadits di atas. Bencana kekeringan bukan terutama karena faktor minimnya hujan, tapi bumi yang tidak lagi mampu menumbuhkan tanaman, meski turun hujan berkali-kali. Bagaimana bisa terjadi? Ya, ketika tanah benar-benar kehilangan fungsinya sebagai resapan air hujan, dan ini akibat eksploitasi. Tapi ada juga faktor lain. Ketandusan tanah tak melulu soal hujan, tapi juga penurunan kualitas tanah sehingga tak lagi subur. Ini disebabkan oleh penggunaan pupuk kimiawi secara terus-menerus. Pengalaman Indonesia dengan “Revolusi Hijau”-nya rezim Soeharto kini menuai “hasil”: kualitas tanah yang terus memburuk akibat toksin kimiawi. Petani dibuat tergantung, membeli pupuk buatan korporasi, diasingkan dari benih ciptaannya sendiri. Siklus ini kini mulai disadari oleh para petani, yang mulai melawan dengan menggencarkan penggunaan pupuk organik.

Islam mengajarkan bahwa air hujan merupakan suatu rahmat, karenanya umat Islam diperintahkan untuk shalat mohon hujan (istisqa’) ketika terjadi bencana kekeringan. Namun dalam suasana ketika krisis ekologis mencapai batas ekstrem, air hujan pun belum tentu mampu menjadi solusi bencana suatu wilayah. Air itu bahkan dapat menjadi petaka (banjir). Rahmat dapat berubah seketika menjadi bencana (bala’). Ulah para penguasa yang mengizinkan konsesi-konsesi eksploitatif atas sumber-sumber air (penggundulan gunung, penambangan karst, penambangan sungai dan wilayah sempadan air, dst.) memberi kontribusi besar dalam mempercepat meluasnya bencana. Para penguasa semacam itu – dan para pemodal di baliknya – adalah bencana itu sendiri. “Wal ‘iyadzu billaah”.

(Hadits ini dipersembahkan untuk ribuan rakyat Indonesia yang hari-hari ini menghadapi kekeringan di Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, dan lain-lain.).

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

Hak Cipta © 2015. Daulat Hijau